kursor

Rainbow Pinwheel Pointer

Kamis, 24 Desember 2015

pelabuhan terpanjang di sedanau

                                SEDANAU PULAU “TERAPUNG”

Sedanau merupakan sebuah pulau kecil yang terdapat di Natuna. Sedanau merupakan bagian dari Kecamatan Bunguran Barat sekaligus sebagai ibu kota Kecamatan Bunguran Barat.
Dengan jumlah penduduk sekitar 6.187 jiwa dan 1,065 kepala keluarga dan berbagai suku yang tinggal di Sedanau Namun perbedaan kepercayaan  tersebut bukan menjadikan Sedanau rentan terhadap konflik dan perselisihan antara masarakat. Namun perbedaan itu bahkan dijadikan modal untuk mengembankan Sedanau untuk menjadi yang lebih baik.
Sedanau boleh dikatakan sebagai salah satu pusat perekonomian Natuna. Meskipun dengan pelabuhan yang sangat sederhana, namun perekonomian Natuna bisa berjalan berkat pelabuhan dan proses bongkar muat barang yang berguna  untuk perekonomian Natuna.

Disamping letaknya yang sangat srategis di kabupaten Natuna, Sedanau menyimpan sebuah kisah yang sangat menarik. Tahu kah anda bahwa pembangunan pulau Sedanau sebagian besar dilakukan diatas permukaaan laut, dan terus berkembang pesat hingga sampai saat sekarang ini.
Masyarakat Sedanau mempunyai sebuah kebiasaan yang sangat unik yaitu mendirikan rumah-rumah dan bangunan mereka di atas permukaan laut. Hal itu mereka lakukan dengan cara memberikan tiang sebagai penyagga bangunan mereka.

Boleh disebutkan lebih dari 2,5 KM dari bibir pantai Jalan beton dan bangunan-banguna terus dibangun dan semakin padat. Dan bahkan perekonomian Pulau Sedanau juga di pusatkan di atas permukaan laut.
Bahkan sekarang pemerintah Provinsi Kepri memberikan anggaran secara bertahap untuk pembanguna jalan beton diatas permukaan laut kurang lebih sepanjang  1 KM dengan lebar sekitar 9 Meter.  Jalan tersebut membentang lurus ke laut dan kemudian menyusuri permukaan pantai Pulau Sedanau untuk kemudian di hubungkan kembali ke pulau Sedanau. 
Proses pembangunan jalan tersebut sampai saat sekarang ini terus di kerjakan. Dan jalan di atas permukaan laut ini merupakan yang terpanjang yang ada di Kabupaten Natuna, dan bahkan sangat jarang dijumpai di daerah manapun.

Dan dalam pembangunan jalan beton tersebut, dibagi menjadi dua jalur, dan menurut informasi yang beredar saqlah satunya akan dijadikan sebagai pelabuhan Kapal PELNI yaitu KM.Bukit Raya, yang merupakan transportasi unggulan bagi masyarakat Natuna.
Beberapa kasus atau kejadian yang saya alami sendiri, ketika berjumpa dengan orang-orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di pulau Sedenau. Sebuah rasa heran dan tidak percaya terlintas di benak mereka ketika melihat pembangunan Pulau Sedanau yang di pusatkan di atas permukaan laut.
Sedanau akan terus berkembang menjadi sebuah Pulau “Terapung” dan akan menjadi bagian yang sangat penting bagi Kabupaten Natuna.

HHhmm,,, aneh yaa,,. Tapi itulah uniknya Sedanau. Pulau kecil yang menyimpan keindahan.

(Pemandangan "Sunset" di pulau Sedanau di lihat dari Jalan beton yang sedang di bangun)

Rabu, 23 Desember 2015

Asal Mula Nama Pulau Sedanau


  Sedanau adalah salah satu pulau di Kabupaten Natuna. Masyarakatnya terkenal paling makmur karena dengan kekayaan ikannya. Faktor ini juga menjadikan Sedanau ibukota kecamatan bagi Natuna Barat.
Tapi tahukan Anda asal usul penamaan Pulau Sedanau? Terdapat dua versi yang menceritakan asal nama Pulau Sedanau. Pertama, nama Sedanau disematkan pada pulau ini berawal dari keberadaan sebuah danau yang ada di pulau itu. 

Danau ini jadi lalulintas masyarakat yang keluar masuk ke pulau itu. 

Sedangkan versi kedua, Sedanau berasal dari kata Sedu Sedan. Konon ada orang raya yang berkuasa di pulau itu bersama Rama minta bantuan kepada Kerajaan Daik Lingga ketika sering mendapat ancaman dari bajak laut.  Para bajak laut itu berasal dari Suku Moro dan Mindanau Philipina. 

Dalam perjalan menuju Diak, di tengah lautan ia bertemu dengan bajak laut dari Riau yang di pimpin oleh Panglima Hujan.  Orang Kaya Rama pun berunding dengan gerombolan bajak laut itu. Singkat kata, bajak laut asal Riau itupun bersedia memberikan bantuannya kepada warga Sedanau.

Pada saat pertempuran berkecamuk, tiba-tiba Panglima Hujan terkena sabetan pedang pasukan bajak laut dari Moro dan Mindanau. Kemudian sang panglima dilarikan ke sebuah tempat yang diberi nama Tanjung Wilayah di Pulau Sedanau. Namun malang tak dapat ditolak, sang Panglima Hujan pun meninggal ditempat itu juga dan dimakamkan pada tempat yang sama.

Dengan meninggalnya Panglima Hujan, maka para anggota bajak laut dari Riau dan warga setempat pun dilanda rasa sedu sedan yang mendalam. Siang malam mereka berkumpul di tempat tersebut. 

Masa berkabung itulah dikenal dengan masa sedu sedan. Akhirnya suasana berkabung itu diabadikan menjadi nama pulau tempat peristiwa itu berlangsung dengan sebutan Sedanau.
Pulau Sedanau juga dikenal oleh masyarakat Natuna dengan nama Pulau Genting.